Tampilkan postingan dengan label Info HR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info HR. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Juli 2011

Menjadi Atasan Atau Pemimpin?

Ada di antara Anda yang bertanya-tanya, "Apa bedanya atasan dan pimpinan? Sepertinya sama saja..." Sama-sama menjadi bos, menjadi sosok yang utama, unggul dan selalu dipatuhi. Memiliki tampuk kekuasaan sehingga bebas memberikan perintah kepada orang lain. Tetapi apakah Anda yakin kedua orang itu sama?

TIDAK!

Mereka bukan orang yang sama, inilah perbedaannya:

ATASAN memberi perintah kepada bawahan agar melakukan semua hal yang diinginkannya, sementara PEMIMPIN memberikan inspirasi kepada orang lain.

ATASAN sangat bergantung pada kekuasaan, sementara PEMIMPIN dihormati bukan berdasarkan kekuasaan semata.

ATASAN memancarkan rasa takut, membuat semua orang selalu waspada dan berusaha berbuat sesuai keinginannya. Sementara PEMIMPIN memberikan rasa percaya, nyaman dan memiliki orang-orang di sekelilingnya.

ATASAN akan berkata, "Saya..." Namun PEMIMPIN akan berkata, "Kita..."

ATASAN menunjuk siapa yang salah dan bertanggung jawab. Sementara PEMIMPIN menunjukkan di mana letak kesalahannya, dan memberikan solusi.

ATASAN hanya tahu sebuah pekerjaan harus selesai. Sementara PEMIMPIN tahu benar bagaimana menyelesaikan sebuah pekerjaan dan merangkul rekan-rekan dan bawahan untuk menyelesaikannya bersama-sama.

ATASAN selalu ingin dihormati, PEMIMPIN dihormati tanpa ia meminta terlebih dahulu

Menjadi atasan atau pemimpinkah Anda? (wo/bee)

sumber : http://woman.kapanlagi.com/relationship/karir/5683-menjadi-atasan-atau-pemimpin.html

Senin, 13 Juni 2011

Lima Trik Agar Jadi Karyawan Favorit

Catatan pengalaman kerja menjadi bahan pertimbangan perusahaan saat ingin mempekerjakan seseorang. Untuk itu, penting untuk memiliki kemampuan sesuai dengan pekerjaan impian.

Sebelum melamar pekerjaan, pastikan Anda meningkatkan beberapa keterampilan yang menunjang karier. Berikut lima langkah meningkatkan keahlian, seperti dilansir dari Shine.

1. Manfaatkan kekuatan media sosial
Banyak perusahaan yang mulai mempertimbangkan media sosial sebagai strategi bisnis mereka. Namun ironisnya, hanya beberapa orang yang menjadi pengikut atau berteman dengan perusahaan di Twitter dan Facebook.

Agar resume sosial Anda menarik, perbaiki isi tulisan dan pengaturan di blog. Perhatikan pula bagaimana mendapatkan banyak pengikut. Manfaatkan Facebook sebagai media memasarkan diri.

Anda tidak hanya akan tangguh dalam kompetisi, tetapi juga telah membangun jaringan yang dapat membantu Anda dalam mencari pekerjaan yang Anda inginkan.

Pastikan Anda selalu mengingat bahwa yang Anda lakukan secara online mendukung resume. Jadi, jagalah agar selalu bersih dan profesional.

2. Kuasai program komputer terbaru
Perusahaan biasanya lebih memilih orang yang telah mengetahui apa yang akan ia kerjakan, dibandingkan orang yang masih memerlukan pelatihan. Itulah sebabnya, menguasai beberapa program komputer dapat menaikkan 'harga jual' Anda.

Pertimbangkan untuk mengambil tutorial online, termasuk program yang digunakan dalam pekerjaan Anda. Biasanya, program-program tersebut misalnya Word, Excel, PowerPoint, Photoshop, dan program manajemen pelanggan seperti Salesforce.

Akrab dengan program-program profesional memberi nilai tambah pada resume dan memberikan Anda kelebihan dibanding pelamar pekerjaan yang lain.

3. Asah kemampuan berbahasa asing
Ada banyak cara untuk mengasah kemampuan Anda berbahasa asing. Dari ikut kursus, membaca buku-buku berbahasa asing, membeli CD pembelajaran, hingga menggunakan fasilitas Skype untuk chat dan berbincang-bincang dengan orang asing. Biasanya, Bahasa Inggris dan Mandarin menjadi nilai tambah kemampuan yang akan dilihat perusahaan.

4. Menjadi sukarelawan di organisasi
Jika Anda tidak memiliki pengalaman bekerja sebelumnya, pengalaman menjadi relawan adalah cara yang tepat untuk menunjukan etika pekerjaan, pengetahuan, dan kehandalan Anda.

Organisasi juga sumber informasi untuk pelatihan yang mengarah pada pengangkatan Anda sebagai karyawan tetap.

5. Hadiri pameran pekerjaan
Mencari pekerjaan membutuhkan koneksi. Berkunjung ke pameran pekerjaan merupakan peluang membangun hubungan profesional. Temui bebeerapa profesional dengan bidang pekerjaan yang Anda incar, ajak bicara, dan minta alamat email mereka.

sumber: VIVAnews

Minggu, 12 Juni 2011

Studi: 'Menjilat' Atasan Bikin Hidup Sehat

Mungkin Anda sering melihat sejumlah rekan kerja yang pandai mengambil hati atasan. Rasa kesal tak jarang muncul, ketika aksi itu membuat mereka menerima promosi jabatan atau kenaikan gaji. Terlepas efek buruknya terhadap lingkungan sekitar, sebuah studi mengungkap bahwa 'menjilat' bos membuat hidup lebih sehat.

Studi yang diterbitkan di Journal of Management Studies itu mengungkap bahwa tindakan semacam itu justru dapat mengurangi tekanan psikologis di tempat kerja. Tak hanya terhadap atasan, kemampuan seseorang merebut hati rekan kerjanya juga dapat menjauhkannya dari tekanan psikologis serupa.

Hasil studi itu menunjukkan, kemampuan seseorang melancarkan politik 'cerdas' untuk mengambil hati atasan dan rekan kerjanya akan meminimalisir terjadinya tekanan psikologis akibat pengucilan di lingkungan kerja.

Studi tersebut juga mengungkap bahwa pekerja yang mengalami pengucilan atau tidak disenangi bos cenderung akan menerima tekanan pekerjaan yang lebih berat, kelelahan emosional, dan kehilangan kreativitas serta produktivitas akibat tekanan yang muncul.

Berdasar survei terhadap 262 karyawan selama lebih lima tahun, sebanyak 29 persen dari 66 persen responden yang merasa diabaikan oleh bos atau rekan kerja memutuskan meninggalkan pekerjaan mereka (resign). Ini menunjukkan bahwa pengucilan di tempat kerja menjadi faktor pemicu stres individu yang berdampak pada kesehatan.

Dalam studi terhadap 215 karyawan di dua perusahaan minyak dan gas di China. tersebut, peneliti menguji hubungan antara kemampuan berpolitik di tempat kerja dan pengucilan di tempat kerja serta tekanan psikologis karyawan. "Data menunjukan bahwa pengucilan di tempat kerja berhubungan dengan tekanan psikologis," ujar Ho Kwong Kwan, salah satu penulis studi.

Menurutnya, proses mengambil hati dapat menetralisir hubungan antara pengucilan di tempat kerja dengan tekanan psikologis bila dilakukan oleh karyawan yang memiliki ketrampilan berpolitik. Namun, akan terjadi sebaliknya jika dilakukan oleh karyawan yang tidak pandai berpolitik.

Sementara jalan menuju kesuksesan dan kesehatan muncul dari 'menjilat', penulis studi memiliki saran yang lebih baik. Mereka mengatakan bahwa perusahaan harus menciptakan budaya yang menghambat munculnya pengucilan di tempat kerja dengan menyediakan pelatihan kepada manajer dan karyawan. Hal ini akan meningkatkan harga diri dan kepercayaan diri karyawan, mendorong teknik pemecahan masalah yang efektif, dan meningkatkan ketrampilan berpolitik karyawan. (umi)

sumber : VIVAnews

Sabtu, 21 Mei 2011

9 Tipe Bos Menyebalkan

Apakah Anda kini bekerja di bawah seorang atasan yang sangat sulit dan menjengkelkan? Agar performa baik Anda tetap dapat dipertahankan, meski harus berhadapan dengan bos yang menyebalkan, simak saran berikut ini untuk menghadapinya.

Atasan yang selalu memberi komentar terhadap setiap gerak-gerik Anda.

Cara menghadapinya:
Debat atasan tipe ini melalui e-mail, berkas laporan, dan hasil rapat agar dia dapat mengendalikan dirinya.

Atasan yang ingin mendapat informasi dengan cara mendekati Anda, seolah-olah Anda sahabatnya.

Cara menghadapinya:
Jaga jarak dengannya! Ajak dia ke tempat yang lebih netral jika ia mengajak bertemu.

Atasan gila kerja dan menuntut Anda bekerja seperti dia.

Cara menghadapinya:
Dia harus tahu, di dunia ada kehidupan lain selain bekerja. Setiap ada kesempatan, ceritakan kepadanya mengenai keluarga, teman-teman, dan hobi Anda.

Atasan yang suka membuat lelucon tidak lucu atau tidak baik mengenai diri Anda.

Cara menghadapinya:
Sebaiknya, leluconnya jangan ditanggapi. Ganti topik pembicaraan dengan hal yang lebih serius dan netral.

Atasan yang suka memerintah, selalu merasa paling tahu dan benar, tidak mau disalahkan, dan sering menyalahkan orang lain.

Cara menghadapinya:
Secara tertulis, minta pendapatnya untuk semua rencana dan keputusan penting. Tetapi, Anda tetap harus waspada bila ada kesalahan, yang sudah pasti sang atasan akan mengatakan tidak tahu menahu.

Atasan yang kaku, hanya memerlukan jawaban "ya" atau "tidak", dan tak peduli dengan informasi bermanfaat atau diskusi-diskusi lain.

Cara menghadapinya:
Siapkan laporan secara tertulis, disertai beberapa alternatif yang harus dikerjakan. Bila dia memerlukan rekomendasi, berikan secara lisan saja.

Atasan yang pasif-agresif, suka menunda-nunda pekerjaan, sering mengeluh tak cukup waktu, dan selalu menyalahkan orang lain atas pekerjaan yang tak bagus.

Cara menghadapinya:
Libatkan orang lain sebanyak yang diperlukan sehingga Anda mempunyai saksi.

Atasan yang tak dapat mengambil keputusan, selalu meminta sumber informasi dari sana sini sebelum membuat keputusan yang seakan-akan dibuatnya sendiri.

Cara menghadapinya:
Cari informasi sebanyak-banyaknya dari orang-orang yang berperan dan terlibat di dalam masalah yang sama.

Atasan yang tidak dapat memisahkan pekerjaan dan kehidupan pribadinya.

Cara menghadapinya:
Nikmati pekerjaan Anda! Salah pengertian mengenai hal yang tidak penting, malah dapat merusak hubungan kerja.

Yakinlah, dengan berjalannya waktu, mimpi buruk Anda dapat berubah menjadi mimpi yang indah. Atasan yang menyebalkan dapat menjadi faktor yang memotivasi Anda untuk berubah menjadi lebih baik. ALINE

sumber : http://default.tabloidnova.com/article.php?name=/9-tipe-bos-menyebalkan&channel=karier

Cermati Dulu, Kenapa Bos Gampang Marah

Ada banyak hal yang bisa bikin bos gampang marah. Asal tahu caranya, kita bisa asyik saja kok menghadapi atasan seperti ini. Coba simak kiat dari psikolog Oktarina Said.

Tekanan

Biasanya! seorang atasan adalah pekerja yang juga masih memiliki bos lagi. Sikap kerasnya kepada anak buah mungkin terjadi karena dia mendapat tekanan dari atasannya lagi untuk memenuhi tuntutan target.

Jangan terlalu sensitif

Oktarina pun meminta bawahan tidak terlampau sensitif kalau disentil.

Misalnya, ketika atasan menyentil dengan alasan anak buah terlalu sering izin hingga pekerjaan terbengkalai. Coba lihat dari perspektif atasan. Satu pekerjaan yang tertunda akan menunda pekerjaan lainnya. Bedakan, misalnya, saat atasan menegur dengan alasan yang tidak berhubungan sama sekali dengan pekerjaan. Seperti, contoh saja, alasan iri karena si anak buah enggan makan siang bersama dia.

Introspeksi

Sebelum tersinggung dengan sikap keras atasan tanya dulu ke diri sendiri. Apa sebagai anak buah ia memang pantas dimarahi. Lalu ketika semua pekerjaan sudah dituntaskan sesuai tenggat namun atasan masih bersikap keras, Oktarina mengatakan, bawahan boleh mengajukan argumen. "Argumen layak dilakukan kalau pekerjaan sudah beres tapi kritik terus mengalir," kata dia.

Sisi berbeda

Tidak ada hubungan, antara atasan dan bawahan yang selalu cocok. Selalu ada dua sisi yang berbeda dalam lingkup hubungan itu. Titik temu pun tak selalu ada. Oktarina pun mengatakan, upaya menyamakan persepsi antara atasan dan bawahan menjadi penting. Ini agar suasana kerja bisa berjalan nyaman.

sumber : Republika

Kenali Tipe Atasan

Bekerja dengan orang lain tidak selalu mudah. Memahami tipe atasan bisa membantu kita memahami pola pikir mereka. Kata kuncinya, terletak pada cara mencari jalan terbaik dalam setiap situasi dan belajar bagaimana meresponsnya.

Pada dasarnya ada beberapa tipe atasan yang sulit dihadapi. Laman zdnet.co.uk meminta bawahan untuk tidak hanya membaca deskripsi atasan macam apa yang ada di kantor. Cobalah pula untuk belajar memahami atasan supaya hubungan dengan atasan bisa berjalan mulus.

Tipe mikromanajer

Atasan tipe ini umumnya gagal mendelegasikan pekerjaan. Ia ingin selalu tahu segala hal yang dikerjakan anak buahnya, termasuk cara anak buah mengerjakan tugas dari atasan.

Atasan seperti ini kerap membuat anak buah bekerja lebih keras dan setiap proses jadi berjalan lebih lama.

Atasan model mikromanajer biasanya membuatpekerjanya merasa tidak dipercaya dan tidak percaya diri. Akibatnya, produktivitas dan moral kerja pekerja menurun.

Tipe yang tidak memenuhi kualifikasi

Tidak semua atasan memahami cara menjadi atasan. Atasan model ini umumnya tidak mengerti proses, produk yang dihasilkan, atau situasi yang harus dihadapi. Namun, talentanya menjadikan ia bisa diangkat sebagai atasan.

Anak buah biasanya frustrasi menghadapi atasan yang tidak mengerti bagaimana caranya mengerjakan tugasnya. Alasannya, tugas dari atasan bisa jadi tidak masuk akal atau tidak bisa dipraktikkan. Padahal, seorang atasan seharusnya bisa melakukan semua yang ia minta dan memahami pola bisnis lebih baik daripada anak buah.

Tipe berantakan

Dengan atasan model ini, anak buah umumnya tidak menemukan masalah komunikasi. Kepribadian atasan juga tergolong menyenangkan.

Masalahnya ia adalah orang yang berantakan.

Anak buah bisa harus menunggu lama untuk memulai rapat. Atau, harus terus-menerus mengingatkan atasan untuk sebuah pekerjaan. Dalam kasus seperti ini, performa kerja seluruh tim adalah taruhannya.

Tipebully

Atasan dengan tipe bully boleh dibilang hobi mempermalukan bawahannya di depan orang lain. Itu termasuk membentak anak buah secara keras, meremehkan pekerjaan, dan membuat anak buah merasa tidak kompeten.

Orang macam ini tidak akan ragu terus-menerus menekan anak buahnya. Namun, dia tidak bakal berani memperlakukan atasannya lagi dengan cara-cara yang ia praktikkan kepada anak buahnya.

Tipe yang tidak masuk akal

Bos seperti ini suka bekerja. Bahkan, tergolong sangat gemar bekerja. Ia menyukai tanggung jawab yang menumpuk. Atasan bertipe tidak masuk akal ini kerap tidak memahami kenapa anak buahnya tidak bisa mengerjakan tugas yang biasanya tuntas dalam dua hari, bisa selesai hanya satu hari. Atasan macam ini biasanya workaholic dan memfokuskan hidupnya untuk pekerjaan.

sumber : republika

AWAS ATASAN GALAK !!

Gampang-gampang susah menghadapi atasan seperti ini. Yang penting, tahu kiatnya.ita!" Merasa namanya dipanggil, Anindita Ayu langsung berdiri menuju meja si bos. Dita, panggilan Anindita, lalu berjalan cepat menuju mang kerja atasannya. "Kenapa proposal ini dikerjain begini?" tanya atasan kepada Dita.

Belum sempat menjawab, atasan Dita mengungkit kesalahan lama yang pernah Dita lakukan. Amarah atasan bertambah, suaranya meninggi. Akibatnya, pembicaraan antara atasan dan Dita terdengar pegawai-pegawai lain.

"Aduh saya malu sekali," cerita Dita. Perempuan berusia 27 tahun yang bekerja di perusahaan akuntansi itu pun berceloteh tentang si bos.

Kata dia, atasannya tidak pernah memberi penjelasan tentang bagaimana proposal harus digarap. Dita yang kerap mencoba bertanya juga putus asa karena atasannya selalu berkilah kalau ia sibuk hingga tak bisa diganggu. Atasannya yang satu ini memang terkenal galak.

Siapa pun yang dianggapnya melakukan kesalahan akan ditegur habis-habisan di depan pekerja lain. "Toleransinya juga, aduh minim betul," kata Dita.

Hanya karena atasannya itu selalu masuk kerja, ia tidak menerima alasan anak sakit atau tidak enak badan hingga sampai harus izin kerja.

Oktarina Said, seorang psikolog, mengatakan, atasan yang galak harus dicermati terlebih dulu. Perhatikan apakah ia hanya bersikap keras kepada satu orang saja atau seluruh anak buah. Apabila sikap kerasnya ditujukan pada satu orang saja, Oktarina berujar, pekerja harus mengevaluasi dirinya. "Teguran pasti ada alasannya," ujar dia.

Jika sikap kerasnya ditujukan bagi semua pekerja di bawahnya, Oktarina mengatakan, faktornya adalah karakter atasan yang memang keras. Psikolog lulusan Universitas Indonesia ini menambahkan, sikap kerasnya itu juga harus dicermati. Apakah sebatas koridor pekerjaan atau sudah merembet ke urusan pribadi. Sekali lagi Oktarina mengingatkan, mestinya ada alasan di balik sikap galak. Selama masih berkaitan dengan pekerjaan, saya rasa ofce," sambung dia.

Namun, akhirnya keputusan itu tetap ada di tangan kita. Seperti Dita yang akhirnya memilih berhenti dari perusahaan itu.

Ia mengaku tidak sanggup bekerja dalam suasana menegangkan seperti itu. "Saya tahu saya ini pekerja yang baik, kok. Buktinya di kantor sebelumnya saya bisa bekerja benar," tuturnya.

Bagi Dita, ketimbang ia hidup dalam ketegangan, lebih baik ia mencari pekerjaan lain. Dita juga tidak pernah berusaha , menjinakkan atasannya. Katanya, upaya itu sama dengan membuang-buang energi. "Saya beruntung masih bisa mendapatkan pekerjaan lain dan keluar dari jerat bos galak," kata Dita.

Oleh Indira Rezkisari

sumber : Repulika

Selasa, 15 Maret 2011

Bos yang Baik Kunci Utama Retensi Karyawan

Dalam era yang kerap disebut sebagai "turbulent times" ini, mengelola dan meretensi karyawan hingga menghasilkan tingkat engagement yang tinggi merupakan tantangan yang berat. Namun, salah satu kuncinya sebenarnya sederhana saja meskipun tidak mudah juga untuk dilaksanakan. Kunci tersebut terletak pada para bos yang baik.

Demikian benang merah yang bisa ditarik dari presentasi yang disampaikan oleh Managing Director Indorama Group Indonesia Amit Lohia pada salah satu sesi di acara Asia HRD Congress 2008 di JCC, Jakarta yang berlangsung Selasa (22/7) hingga Kamis (24/7/08).

Diungkapkan, dalam pengalaman Indorama, bos yang baik menempati urutan pertama dari setidaknya lima faktor penggerak engagment karyawan. Menyusul kemudian "empowerment", "job charity and fit", "growth prospect" dan "compensation and flexibel reward".

"Kita berhasil mencapai tingkat retensi karyawan 97%. Namun, kegagalannya juga ada, misalnya masih banyak bos yang buruk dan masih banyak promosi karyawan yang tertunda," aku Amit.

Lebih jauh Amit melihat, kondisi dunia ketenagakerjaan dewasa ini ditandai dengan bangkitnya nilai-nilai yang "intangibles". Salah satu buktinya, kompensasi dan reward tak lagi menempati urutan pertama dalam urusan retensi dan engagment karyawan.

"Saat ini karyawan lebih mengutamakan perlakuan yang baik dari perusahaan, adanya pengakuan, dukungan dari atasan, lingkungan yang kekeluargaan serta kualitas yang seimbang antara pekerjaan dan kehidupan pribadi," papar dia.

Amit menambahkan, hal-hal tersebut harus menjadi perhatian setiap perusahaan jika ingin sukses mempertahankan dan mengikat karyawan-karyawan terbaik yang dimiliki. Namun, diingatkan agar program-program tersebut jangan hanya manis di bibir. "Di sinilah dituntut peran HR," sambung dia.

Selain memastikan komitmen dari CEO, menurut Amit, HR harus mampu menampilkan kepemimpinan yang inspirasional dan role model. "Perlakukan orang lain sebagaimana Anda ingin diperlakukan dan jadikanlah kantor sebagai tempat yang menyenangkan," tandas Amit.

sumber : http://www.portalhr.com/beritahr/organisasi/1id1047.html

Senin, 14 Maret 2011

Bos Bergaji Tinggi Lebih "Kejam" pada Karyawan

Selasa, 27 Juli 2010 - 14:38 WIB

Apakah atasan Anda termasuk mereka yang bisa digolongkan sebagai bos yang "kejam"? Jika iya, berarti bos Anda bergaji sangat tinggi. Demikianlah, menurut sebuah penelitian, makin tinggi gaji para eksekutif membuat mereka makin "kejam" pada karyawan?

Hubungan antara gaji yang diterima oleh para CEO dengan perlakuan mereka terhadap karyawan diteliti oleh sebuah tim dari Rice University, Harvard University dan University of Utah. Hasilnya, makin besar kompensasi yang diterima CEO maka makin buruk perlakuannya pada karyawan.

Menurut para peneliti tersebut, peningkatan gaji membuat kekuatan seseorang bertambah. Sebagai seorang eksekutif yang dibayar lebih, para atasan akan merasa memiliki kekuasaan tinggi, dan lebih banyak kekuatan untuk "mengevaluasi" bawahannya secara lebih ketat.

Laporan penelitian bertajuk "When Executives Rake in Millions: Meanness in Organizations." itu juga menyebutkan, perlakuan "kejam" akan menjadi lebih buruk karena kesenjangan antara kompensasi CEO dan karyawan di tingkat bawah.

Ketimpangan yang cukup tinggi antara pendapatan eksekutif dan pekerja biasa membuat para eksekutif merasa kuat dan itu menyebabkan persepsi kekuasaan bahwa mereka dapat "menganiaya" bawahan.

Lalu, apakah gaji para CEO perlu diturunkan? Secara tersirat, laporan penelitian tersebut menyarankan bahwa hal itu perlu dipertimbangkan.

"Kami percaya, selain untuk menguji hubungan antara gaji para eksekutif dan kesuksesan keuangan perusahaan, penting untuk mempertimbangkan implikasi etis bahwa eksekutif dengan pendapatan lebih tinggi memperlakukan karyawan lebih kejam," kata peneliti seperti dilaporkan NY Daily News.

sumber : http://www.portalhr.com/beritahr/compensation/1id1626.html