Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Agustus 2011

Banyak yang Berpuasa, Tapi Mereka Tak Mendapatkan Apa-apa

Oleh Ustadz Muhammad Arifin Ilham

Ramadhan secara bahasa berasal dari kata ramidha, yarmadhu, ramadhan yang artinya terik, sangat panas, atau terbakar (pembakaran). Jika pengertian ini dipegang berarti Ramadhan dapat diartikan sebagai pembakaran, peleburan, atau penghapusan sesuatu.

Adapun sesuatu yang dibakar bisa dua kemungkinan. Pertama, yang dibakar biasanya adalah sesuatu yang kotor; seperti sampah yang berserakan di pelataran rumah, yang setelah dikumpulkan lalu dibakar. Biasanya, setelah itu pelataran rumah menjadi bersih. Atau kemungkinan kedua, sesuatu yang dibakar biasanya benda seperti besi. Oleh si pandai besi, besi dipanaskan lalu dibakar, besi kemudian memuai dan setelah itu mudah baginya untuk membentuk dan menciptakan apa pun sesuai seleranya. Bisa jadi pisau, keris, pedang, atau yang lainnya.

Ramadhan dengan arti pembakaran, itu berarti yang kotor-kotor dari diri kita harus dibakar. Hidup kita kotor karena dosa dan kemaksiatan yang tumpuk-menumpuk. Pelataran kehidupan pun seperti dipenuhi oleh sampah-sampah kesalahan yang berserakan sehingga mengakibatkan ketidaknyamanan dalam hidup. Ramadhan datang, berarti kesempatan terbesar buat kita untuk membakar semua bentuk kesalahan dan dosa sehingga kehidupan menjadi bersih dan nyaman. Bahkan, dari proses pembakaran pada Ramadhan ini akhirnya bisa membentuk dan menciptakan diri kita sesuai selera kebaikan, yaitu insan yang bertakwa. (QS al-Baqarah [2]: 183).

Karena itu, Ramadhan terbaik adalah Ramadhan yang mampu memuasakan diri tidak sebatas menahan lapar, haus, dan birahi, tapi memuasakan segala sesuatu demi satu hal, yaitu lahir dan terbentuk manusia yang bertakwa. Saatnya, kita pindahkan dari puasa seremoni menuju puasa yang hakiki.

Puasa seremoni adalah puasa yang hanya mengejar fikih, asal tidak membatalkan puasa, seperti makan minum atau berhubungan suami istri pada siang hari. Memang tidak makan dan minum pada siang hari. Juga tidak tidur dengan suami atau istri pada jam-jam setelah imsak hingga Maghrib, tapi perbuatan-perbuatan yang melanggar norma dan kaidah kepatutan agama tidak diindahkan. Perbuatan-perbuatan, seperti rafats (berkata cabul atau porno), fusuq (fasiq seperti berkata atau bersumpah tidak sesuai fakta), dan jidal (mencaci maki, memfitnah, dan bergunjing atau bergosip), sama sekali tidak dipuasakan.

Dalam hal itulah, Rasulullah SAW memberikan peringatan terhadap umat Muslim. "Banyak orang yang puasa, mereka tidak mendapatkan apa-apa melainkan hanya rasa lapar dan haus." (HR Bukhari). Lebih tegas, Rasul SAW menyebutkan bahwa Allah sama sekali tidak berhajat kepada usaha menahan rasa lapar dan haus seseorang, bila dia tidak meninggalkan perkataan bohong, perbuatan nista, dan tindakan kejahilan. (Baca HR Muslim).

Karena itu, saatnya kita bakar semua dosa dan maksiat kita dengan berpuasa yang benar sesuai tuntunan syariat Allah dan Rasulullah. Semoga kita mampu memaknai Ramadhan tahun ini dengan benar.

Dimuat di Republika Cetak dengan judul: Memaknai Ramadhan

sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/11/08/05/lpfpmn-banyak-yang-berpuasa-tapi-mereka-tak-mendapatkan-apaapa

Sabtu, 30 Juli 2011

Begini Kiat Mengoptimalkan Ramadhan

Prof Dr KH Achmad Satori Ismail

Dalam pandangan umat Islam, Ramadhan adalah bulan istimewa. Tiada nama bulan yang disebutkan dalam Alquran kecuali Ramadhan. (QS al-Baqarah 2:184). Enam bulan sebelum Ramadhan, para sahabat sudah menanti dan mempersiapkan diri untuk menyongsong bulan suci ini. Rasulullah SAW sejak Rajab sering berdoa, "Ya Allah, berkati kami pada bulan Rajab dan bulan Sya'ban dan antarkan kami sampai bulan Ramadhan. (HR al-Bazzar, Ibnu Sunny, al-Baihaqi, dan lainnya.)

Kendati hadis ini lemah menurut sebagian ulama, jiwa dan maknanya seirama dengan apa yang ditunjukkan Rasulullah untuk mengagungkan bulan Ramadhan. Menjelang tibanya bulan suci, Rasulullah selalu mengingatkan dengan tausiyah sebagaimana diriwayatkan Abu Hurairah ra. "Telah datang kepada kamu sekalian bulan penuh keberkahan, Allah mewajibkan puasa di dalamnya, pintu-pintu surga dibuka lebar, pintu-pintu neraka ditutup rapat, dan para petinggi setan dibelenggu. Allah memiliki di dalam Ramadhan suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barang siapa yang tidak mendapatkan kebaikan malam itu, sungguh ia sangat merugi." (HR An-Nasa'i).

Ramadhan tiap tahunnya disambut bagaikan tamu agung yang dinanti karena merupakan keistimewaan anugerah Ilahi. Di antara keutamaan itu adalah pertama, setiap amal kebajikan umat Islam dilipatgandakan 10 kali lipat. Tapi, di bulan Ramadhan, amalan wajib dilipatgandakan 70 kali lipat dan yang sunah disetarakan dengan amalan wajib di luar Ramadhan.

Kedua, kita diwajibkan puasa karena puasa adalah ibadah istimewa. "Setiap amalan anak cucu Adam dilipatgandakan. Satu kebajikan dilipatgandakan 10 kali sampai 700 kali lipat, kecuali puasa. Puasa adalah milik-Ku dan Akulah yang akan langsung membalasnya. (HR Muslim).

Ketiga, pada bulan ini diturunkan Alquran, kita dianjurkan untuk membacanya dengan rajin. Imam az-Zuhri menyatakan, tiada amalan pada bulan Ramadhan yang lebih baik setelah amalan puasa dari tilawatul quran (membaca Alquran).Keempat, di dalam Ramadhan terdapat malam al-qadar. Beribadah di malam itu lebih baik dari berjuang di jalan Allah selama 1000 bulan. (QS al-Qadar:1-5).

Kelima, dosa-dosa kita yang terdahulu akan diampuni bila kita berpuasa dengan baik dan qiyam Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala Allah (HR Bukhari dan Muslim). Keenam, pada bulan puasa ini, doa-doa kita dikabulkan Allah, apalagi saat berbuka puasa (HR Ibnu Majah dan Baihaqi).

Masih banyak lagi keutamaan Ramadhan. Dengan enam keistimewaan saja, sudah seharusnya kita menyiapkan diri menghadapi Ramadhan dengan mengoptimalkan dan memperbanyak ibadah. Di antaranya adalah dengan berniat ikhlas beribadah, mencontoh Rasulullah SAW dalam mengerjakan amaliah Ramadhan, menyiapkan target dalam tilawah, sedekah, baca buku, memperkokoh shalat jamaah, dan hubungan keluarga.

Di antara amalan unggulan adalah puasa dengan berkualitas, tilawatul quran, qiyam Ramadhan, menanti lailatul qadar tiap malam, memperbanyak tobat dan doa, mengeluarkan zakat fitrah, meningkatkan sedekah, dan iktikaf 10 hari terakhir Ramadhan. Semoga kita dilepaskan dari siksa neraka. Amin.

Dimuat di Republika Cetak dengan judul Optimalisasi Ramadhan

sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/11/07/30/lp4tr3-begini-kiat-mengoptimalkan-ramadhan

Rabu, 29 Juni 2011

Meraih Sukses Ramadhan 1432 H

Perjalanan waktu terasa begitu cepat, Ramadhan sudah diambang pintu. Saat tulisan ini dibuat kita telah memasuki pekan pertama di bulan Rajab (1432 H), berarti waktu yang ada untuk melakukan berbagai persiapan menyambut Ramadhan kurang dari dua bulan lagi.

Ramadhan sebagai bulan yang penuh keistimewaan, keberuntungan, rahmat dan maghfirah datang spesial bagi orang-orang beriman dan ummat Islam pada umumnya. Ini adalah wujud Rahman dan Rahim-nya Allah SWT yang harus disergap dengan melakukan berbagai persiapan sedini mungkin.

Rasulullah SAW dalam menyongsong bulan suci Ramadhan menunjukkan antusias yang sangat tinggi. Bahkan dua bulan sebelum datangnya Ramadhan, beliau sudah mempersiapkan diri dengan memperbanyak ibadah nafilah, utamanya shalat tahajjud (qiyamullail) dan puasa sunnah. Antusiasme ini antara lain dapat kita lihat dari salah satu bait doa beliau “Allahumma barik lanaa fii Rajab, wa fii Sya’ban, wa ballighna Ramadhan” (al-hadits).

Dalam sejarah dikatakan bahwa puasanya Rasulullah SAW yang terbanyak di luar bulan Ramadhan adalah di bulan Sya’ban. Ini menunjukkan betapa pentingnya melakukan pengkondisian hati memasuki bulan tersebut.

Kita kaum muslimin dapat mengambil pelajaran untuk kemudian melakukan persiapan baik dari segi fisik maupun psikis (kesehatan dan iman). Sudah menjadi sunatullah, biasanya untuk menjadi juara dalam suatu kompetisi ditentukan oleh sejauh mana persiapan dan latihan yang dilakukan. Demikian pula kualitas suskses Ramadhan berbanding lurus dengan persiapannya.

Jika diibaratkan nilai dan berkah Ramadhan itu adalah air bening yang suci, maka tempayan dan wadahnya juga sudah dipersiapkan dalam keadaan bersih untuk siap menadah dan memasukkannya kedalam tempayan tersebut. Tempayan itu adalah hati.

Jika sukses Ramadhan tahun ini sudah menjadi obsesi kita, dan telah tertancap dalam benak dan pikiran kita, maka saat ini waktunya kita melakukan persiapan. Bukan besok tapi hari ini, dengan memperkuat niat, meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah, banyak berdzikir, membaca Al-Qur’an dan memperbanyak puasa sunnah. Juga bersama membangun sinergi melalui konsolidasi untuk kemajuan ummat.

Hanya dengan kerja keras dengan planning dan strategi yang jitu (kerja cerdas) serta munajat kepada Allah dengan tulus, kita akan menuai sukses. Semoga sukses Ramadhan tahun ini dapat kita raih, baik secara pribadi maupun lembaga. Mari berprestasi karena kita dipilih untuk berprestasi…Allahu Akbar…

sumber : http://www.bmh.or.id/informasi/artikel/salam-ceo/603-meraih-sukses-ramadhan-1432-h.html