Rabu, 09 Maret 2011

Gaji Penyebab Utama Ketidakpuasan Karyawan

Kamis, 10 Maret 2011 - 11:07 WIB

Gaji adalah penyebab utama ketidakpuasan karyawan di Amerika Serikat, dipilih oleh 47 persen responden dalam survey yang diadakan MarketTools Inc baru-baru ini.

Selain gaji, faktor lain yang juga penting adalah beban kerja (24 persen), kurangnya kesempatan untuk maju (21 persen) dan masalah dengan supervisor/manajer (21 persen).

Memahami dan merespon faktor-faktor ketidakpuasan itu penting bagi perusahaan, karena hampir separuh karyawan yang disurvey mengatakan sedang mempertimbangkan untuk berhenti dari pekerjaan sekarang dan 21 persen di antaranya sudah melamar pekerjaan lain dalam waktu enam bulan terakhir.

Survey yang diadakan perusahaan layanan HR pada bulan Februari 2011 itu mengambil responden karyawan berusia 21 tahun ke atas dan bekerja penuh waktu.

Survey itu juga menemukan 72% perusahaan tidak mempunyai program yang secara rutin mengumpulkan feedback karyawan, dan bila ada karyawan tidak menyadarinya.

“Terdapat korelasi yang kuat antara kepuasan karyawan, kepuasan pelanggan, dan, pada akhirnya, pendapatan dan profitabilitas sebuah perusahaan,” komentar Justin Schuster, wakil presiden produk enterprise dari MarketTools seperti dikutip dari SHRM.

sumber : http://portalhr.com/beritahr/compensation/1id1784.html

Selasa, 08 Maret 2011

10 Bank yang Memiliki Nasabah Tabungan Paling Loyal

Setiap tahun, Infobank bersama MarkPlus Insight bekerjasama memonitor dan mengevaluasi kinerja perbankan konsumer di Indonesia, yang ditinjau dari sisi loyalitas nasabah. Pada 2011, kerjasama ini sudah ketujuh kalinya di gelar. Berikut ini sepuluh bank yang memiliki loyalitas tertinggi secara berurutan:

1. BCA

Hingga kini, Bank Central Asia (BCA) paling unggul dalam produk tabungan. Tahapan BCA menjadi andalan untuk produk tabungan. Jenis produk tabungan yang beragam, seperti Tahapan Gold, merangsang penabung untuk tetap loyal terhadap BCA.

BCA berada di posisi teratas untuk kategori tabungan dalam indeks loyalitas nasabah (customer loyalty index) 2011. Hasil yang dicapainya itu memang tidak berlebihan mengingat BCA secara konsisten menjaga dan memanjakan nasabah tabungannya dengan berbagai cara dan program yang memikat. Imbasnya, dana pihak ketiga (DPK), khususnya tabungan, selalu meningkat.

DPK tumbuh 12,13% menjadi Rp262,8 triliun pada September 2010. Peningkatan itu didukung oleh beragamnya produk dan pelayanan serta kenyamanan bertransaksi yang disuguhkan BCA melalui penyediaan jaringan distribusi yang aman. Tabungan tumbuh 13,5% menjadi Rp136,6 triliun.

2. BANK MANDIRI

Kinerja Bank Mandiri yang kinclong adalah buah dari kontribusi para penabung yang kian setia. Performa yang apik dari produk tabungan Fiesta membengkakkan dana pihak ketiga (DPK)-nya.

Bank terbesar di Indonesia dari sisi aset ini mampu mempertahankan performanya dan masih tetap menduduki urutan kedua dalam survei Indonesian Bank Loyalty Index (IBLI) 2011.

DPK Bank Mandiri naik 8,70% dari Rp295,49 triliun pada September 2009 menjadi Rp321,19 triliun pada September 2010. Total tabungannya sebesar Rp120,33 triliun. Fitur produk tabungannya yang lengkap, salah satunya tabungan Fiesta, membuat Bank Mandiri terus melekat di hati para penabungnya.

3. BNI

Bank Negara Indonesia (BNI) terus memperbaiki performanya. Hal itu dilakukan untuk mempertahankan loyalitas nasabahnya. Nasabah tabungan BNI dengan Taplusnya yang terkenal itu tetap loyal.

Harus diakui, BNI dulu memang tidak segencar bank-bank pelat merah lain dalam menjalankan program-program promosi.

Namun, kini BNI terlihat begitu gencar menjalankan program-program tersebut. Hal itu dibuktikan dengan meningkatnya dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp230,08 triliun (September 2009) menjadi Rp257,02 triliun (September 2010). Peningkatan DPK tersebut berkat kontribusi tabungan yang juga tumbuh.

Dalam indeks loyalitas nasabah (customer loyalty index) 2011, BNI berada di posisi ketiga, naik satu tingkat dari tahun lalu yang berada di posisi keempat. Loyalnya nasabah BNI tentu tidak terlepas dari upaya dan strategi BNI dalam mempertahankan nasabahnya, khususnya nasabah tabungan.

4. BRI

Tidak mau kalah dengan bank lain, Bank Rakyat Indonesia (BRI) pun terus berupaya mempertahankan kinerjanya, misalnya, kualitas pelayanan serta produk tabungan.

Produk tabungannya yang selalu spektakuler kian menambah loyalitas penabung bank pemerintah ini. Jumlah nasabah tabungan BRI sekarang ini sekitar 25 juta. Kontribusi Untung Beliung BritAma sangat berarti bagi BRI. Produk tersebut pun makin digemari masyarakat.

Loyalitas penabung yang kian tinggi mengantarkan BRI menduduki posisi keempat dalam survei Indonesian Bank Loyalty Index (IBLI) 2011 untuk indeks loyalitas nasabah (customer loyalty index).

Memang menurun dibandingkan dengan posisi tahun sebelumnya yang berada di posisi ketiga, tetapi itu tidak mematahkan semangat bank yang tetap konsisten menggarap usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) ini.

5. BANK DANAMON

Bank Danamon kali ini berhasil meningkatkan performa pelayanannya dengan gemilang. Untuk kategori tabungan, Bank Danamon menempati posisi kelima dalam indeks loyalitas nasabah (customer loyalty index) dengan indeks 73,8% dari sebelumnya 72,7%.

Masuk jajaran 10 besar pada survei Indonesian Bank Loyalty Index (IBLI) 2011 tentu bukan perkara mudah. Itu merupakan hasil kerja keras Bank Danamon dalam menggaet nasabah penabung. Bank Danamon merupakan pendatang baru di kelompok 10 besar ini.

Agar tetap melekat di hati nasabah dan nasabah pun puas dengan pelayanan, Bank Danamon terus menjaga performanya dan mempermudah akses lewat jaringan kantor cabang dan automatic teller machine (ATM).

6. BANK BUKOPIN

Selain Bank Danamon, pendatang baru di jajaran 10 besar dalam loyalitas nasabah tabungan adalah Bank Bukopin. Capaian ini jelas merupakan rekor baru bagi Bank Bukopin.

Dalam survei Indonesian Bank Loyalty Index (IBLI) 2011 Bank Bukopin berada di posisi keenam dengan indeks 73,6%. Ini menunjukkan keseriusan Bank Bukopin dalam menjaga performa pelayanannya, yang terus meningkat.

Bank yang populer dengan Tabungan Siaga Bukopin (TSB) ini terus gencar melancarkan berbagai program undiah berhadiah. Tidak hanya membagi-bagikan BMW, Bank Bukopin juga antara lain menyediakan televisi LCD, ponsel Blackberry, dan voucher belanja untuk nasabahnya yang beruntung.

7. PANINBANK

PaninBank kembali masuk jajaran 10 besar dalam survei Indonesian Bank Loyalty Index (IBLI) 2011 untuk kategori loyalitas nasabah tabungan.

Rapornya pun makin baik dengan terjadi peningkatan peringkat dari peringkat ke-10 menjadi peringkat ketujuh dengan indeks 73,4%. Dana pihak ketiga (DPK) yang terus meningkat menandakan bahwa loyalitas nasabah PaninBank makin terjaga dengan baik.

Ke depan PaninBank akan terus memperluas pasar dilengkapi dengan berbagai pelayanan produk yang inovatif, terutama di daerah-daerah potensial seperti Medan yang dianggap pertumbuhan nasabahnya paling signifikan dari sisi penabung.

Dengan pelayanan yang prima dan personal, para nasabah penabung PaninBank pun memiliki kepuasan tersendiri karena dianggap seperti sahabat dan keluarga. Inilah kelebihan PaninBank dalam menggaet penabungnya agar loyal.

8. BANK OCBC NISP

Loyalitas para penabung Bank OCBC NISP tampaknya mulai menurun. Peringkat bank ini untuk loyalitas nasabah penabung merosot dari peringkat kelima ke peringkat kedelapan.

Hal itu tentu cukup mengagetkan. Padahal, dalam setiap event dan promosi, Bank OCBC NISP terbilang gencar dalam menawarkan produk tabungannya, seperti untuk produk tabungan dan giro yang selalu inovatif. Ditambah pula dengan pelayanan online seperti program akhir tahun yang bernama e-channel OCBC NISP.

Kendati peringkatnya menurun, para nasabahnya masih cukup loyal. Hal itu dibuktikan dari peningkatan dana pihak ketiga (DPK) dari tahun sebelumnya. DPK Bank OCBC NISP September 2010 sebesar Rp31,97 triliun atau tumbuh 23,12% dari sebelumnya Rp25,96 triliun.

9. BANK UOB BUANA

Bank UOB Buana sebenarnya cukup konsisten dalam menjaga loyalitas nasabahnya. Namun, indeks loyalitas nasabah (customer loyalty index) untuk kategori tabungan dalam survei Indonesian Bank Loyalty Index (IBLI) 2011 yang dilakukan MarkPlus Insight bekerja sama dengan Majalah Infobank menurun dari 76,0% tahun lalu menjadi 73,10%.

Penurunan juga terlihat dari sisi dana pihak ketiga (DPK) yang hanya tumbuh 0,76%.

Kontribusi terbesar DPK berasal dari tabungan yang meningkat sebesar Rp7,11 triliun dari sebelumnya hanya Rp4,10 triliun atau tumbuh 73,40%. Tumbuhnya tabungan Bank UOB Buana menandakan bahwa loyalitas nasabah penabung masih kuat di bank tersebut.

Bank UOB Buana sepertinya tidak sulit untuk menggaet nasabah lebih banyak lagi. Syaratnya, performa pelayanan terus ditingkatkan. Tentunya dengan program-program hadiah serta jaringan cabang yang semakin luas.

10. BII

Perkembangan bisnis Bank Internasional Indonesia (BII) makin meningkat. Hal itu tercermin dari perolehan dana pihak ketiga bank tersebut yang naik 26,05%. Tabungan meningkat dari sebesar Rp10,90 triliun menjadi Rp12,50 triliun atau naik 14,72%.

Kinerja pendanaan yang bagus ini mencerminkan bahwa loyalitas penabungnya sangat kuat. Namun, itu tak cukup untuk mempertahankan peringkatnya.

Pada survei Indonesian Bank Loyalty Index (IBLI) 2011, BII justru melorot ke peringkat ke-10 atau juru kunci di jajaran 10 besar dari sebelumnya di peringkat kedelapan. Secara keseluruhan, indeks BII menurun dari 75,5% menjadi 73%.

Namun, BII masih bisa meningkatkan lagi performanya. Dengan perluasan jaringan serta penawaran berbagai produk unggulan seperti BII Women One dan produk tabungan lain, maka BII akan mampu mempertahankan loyalitas penabungnya di masa yang akan datang. (*)

Dwi Setiawati

sumber : http://www.infobanknews.com/2011/01/10-bank-yang-memiliki-nasabah-tabungan-paling-loyal/

Iwan Notowidigdo: Mem-branding UOB Buana

Saat ini, gaya hidup masyarakat modern semakin mengarah pada kepraktisan. Sebab itu, kenyamanan menjadi suatu hal yang sangat penting. Hal ini juga berlaku dalam penggunaan kartu kredit sebagai alat pembayaran. Setiap tahun, perkembangannya begitu cepat sehingga terkadang menjadi tantangan sendiri bagi para pemainnya. Salah satunya, Iwan Notowidigdo, Kepala Divisi Unsecured Business PT Bank UOB Buana.

“Saya mulai bergabung dengan UOB Buana sejak tahun 2007. Alasan saya tertarik dengan UOB Buana karena waktu itu baru masuk ke Indonesia. Di mana UOB Buana mengakuisisi Bank Buana,” ungkap Iwan. Ketika disinggung kondisi bisnis Bank Buana sebelum dirinya masuk, Iwan enggan menceritakan. Namun, diperkirakan Iwan, saat itu Bank Buana tengah mengatur manajemen Bank Buana.

Diakuinya, tantangan yang pernah dilewatinya adalah mengganti nama Bank Buana menjadi UOB Buana. Di mana, ia dan timnya melakukan edukasi dan sosialisasi dengan menggunakan produk kartu kredit. “Dalam setahun nama UOB Buana sudah bisa diterima konsumen dan mendapat respons positif. Selanjutnya, tantangan yang saya hadapi adalah membesarkan market dari UOB Buana itu sendiri. Tidak hanya ke arah pertumbuhan yang sehat. Namun juga bisa memberikan kontribusi sebesar 15 persen,” ungkap pria kelahiran 10 Oktober 1965 ini.

Kini, pria yang sudah 20 tahun malang-melintang di bidang perbankan ini tengah mensukseskan peluncuran kartu kredit UOB ONE Card. “Industri kartu kredit di Indonesia sangat kompetitif. Sehingga, untuk membedakannya, UOB Buana meluncurkan kartu multifungsi yang didesain untuk memenuhi beragam kebutuhan dan gaya hidup dinamis dari para penggunanya,” ujar pehobi olahraga fitness ini. (Majalah MARKETING/Fisamawati)

sumber : http://www.marketing.co.id/2010/06/03/iwan-notowidigdo-mem-branding-uob-buana/

Serikat Pekerja Kereta Api Jabodetabek Tidak Diakui

Senin, 07 Maret 2011 | 17:31 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta - Rentetan aksi buruh yang tergabung dalam Serikat Pekerja Kereta Api Jabodetabek (SPKAJ) yang menuntut statusnya dipermanenkan menjadi pegawai PT KAI tidak digubris oleh manajemen PT Kereta Api Commuter Jabodetabek (PT KCJ) maupun manajemen PT Kereta Api Indonesia (KAI). "Pasalnya mereka bukanlah anggota serikat buruh yang resmi dari PT KAI," ujar Ketua Umum Serikat Pekerja (SPKA), Sri Nugroho, saat jumpa media di Stasiun Juanda, Senin (7/3) sore.

Menurut Sri, SPKAJ bukan organisasi yang diakui secara sah oleh manajemen PT KAI. Dia menjelaskan, SPKAJ terbentuk setelah putus kontrak dengan Koperasi Wahana Usaha Jabodetabek (Kowasjab) yang merupakan mitra kerja Divisi Jabodetabek PT KAI.

Kowaslab sendiri kemudian digantikan dengan PT Kencana Lima. Selanjutnya, PT Kencana Lima memperkerjakan pekerja dengan status outsourching di bagian loket dan portir di Divisi Jabodetabek. Itulah sebabnya, menurut Sri, organisasi SPKAJ berada di luar lingkungan pekerja kereta api.

Ketua SPKA DPD I, Suhadi, amat berkeberatan massa SPKAJ memakai atribut PT KAI selama melakukan aksi unjuk rasa. Pihaknya akan menindaklanjuti secara hukum tindakan massa tersebut. "Lagi pula mereka bukan karyawan organik PT KAI dan PT KCJ," timpalnya, di kesempatan yang sama.

Jumlah pekerja SPKAJ sendiri berjumlah 112 orang. Menurut Sri, hubungan hukum yang terjadi antara PT KCJ dan Kencana Lima adalah unit kerjanya, bukan si pekerjanya. Pernyataan Sri ditekankan kembali Kepala Humas Daerah Operasional (Daop) I Mateta Rizalulhaq, yang mewakili manajemen PT KAI. "Untuk meminta jadi pegawai sebaiknya mereka ke PT Kencana Lima, bukan PT KAI," tegasnya.

Sebelumnya, pada Kamis 10 pebruari 2011, Pengadilan Hubungan Industrial Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, memenangkan gugatan 112 buruh SPKAJ. Pengadilan menyatakan, pekerjaan para penggugat adalah jenis pekerjaan yang berhubungan langsung dengan proses produksi sehingga tidak boleh di serahkan kepada perusahaan lain atau outsourcing.

Putusan juga memerintahkan PT. KAI (persero) melalui PT. KCJ paling lama 14 hari sejak putusan dibacakan untuk memanggil dan mempekerjakan para penggugat sebanyak 112 orang untuk dipekerjakan pada PT. KCJ dengan perjanjian kerja waktu tidak tertentu (PKWTT).

Kemudian, apabila PT. KAI (persero) melalui PT. KCJ paling lama 14 hari sejak putusan dibacakan tidak melaksanakan putusan, maka dikenakan dwangsom (uang ingkar janji) sebesar Rp 1 juta per hari dan membebankan biaya perkara yang timbul kepada seluruh tergugat secara tanggung renteng.

Suhadi sendiri mengakui kebenaran putusan itu dan akan segera melakukan banding. Dia memandang bahwa gugatan SPKAJ itu dimenangkan pengadilan karena mencatut nama pegawai PT KAI. "Padahal bukan pegawai. Runtutan berkas gugatannya tidak benar," tuturnya. HERU TRIYONO

sumber : http://www.tempointeraktif.com/hg/jakarta/2011/03/07/brk,20110307-318237,id.html